Fathir Hobi Surfing Menantang Ombak Besar

Menjalani syuting sambil melakukan hobi surfing, menjadi kesenangan tersendiri bagi Fathir Muchtar. Beberapa lokasi, seperti di Pulau Panaitan, Ujung Kulon dan Pantai Cimaja, Sukabumi; adalah spot-spot favorit Fathir memuaskan hobi uji nyalinya tersebut. Tubuh terkoyak batu karang, hingga tali papan terikat di kaki, hanya sedikit dari risiko yang sering ia alami selama berselancar. Sejak kapan pesinetron ini mengenal olahraga ekstrem ini?

Fathir menghampiri ketiga pemuda. Mereka bercengkerama singkat dan tertawa lepas, sambil menunggu Fathir dijemput kru untuk bergeser ke titik pengambilan gambar lain. Ketiga pemuda itu diketahu teman Fathir di komunitas skateboard. Suasana akrab terjalin erat saat mereka berbincang santai. Ternyata, kegiatan Fathir dengan papan luncur itu sudah dilakoni sejak usia remaja. Jauh sebelum ia dikenal sebagai selebriti. Awalnya tahun 1980an, abang mengenalkan skateboard. Dia duluan main. Lalu ada legend skateboard Indonesia, Arya Subiakto, diberi pinjam papan pertama, lalu ditaruh di rumah dan saya mulai belajar, ungkapnya. Setelah skateboard, saya mulai beralih surfing, karena ayah bekerja di pelayaran. Skateboard dan surfing, sebenarnya akarnya sama. Sama-sama pakai papan, tambahnya. Saat remaja, Fathir sebenarnya sempat akan mengikuti kompetisi surfing tingkat wilayah, tetapi urung dilakukan. Lokasi tempat tinggal yang jauh dari pusat ombak menjadi alasan utama untuk giat berlatih. Apalagi, Fathir diharuskan orang tua untuk fokus pada sekolah.

Proses Pengambilan Gambar

Sampai akhirnya, ia mulai mendapat job di dunia hiburan sebagai model dan aktor, mengikuti jejak abangnya, Bucek. Tapi tetap saja saya menjalani aktivitas bermain skateboard dan sur?ng. Hanya sebagai hobi, bukan profesi. Karena saya harus membagi waktu dengan pekerjaan sebagai aktor. Syuting sangat menyita waktu,ungkapnya. Menjalani syuting sambil melakukan dua hobi tersebut, menjadi kesenangan tersendiri. Apalagi hal itu dilakukan dengan senang hati lantaran ia bisa syuting sambil surfing.

Bagaimana siasat melakukan itu secara bersamaan tanpa mengganggu jadwal syuting? Salah satu contoh ketika proses pengambilan gambar untuk film yang dirilis 22 Desember 2011 berjudul Hafalan Shalat Delisa. Lantaran lokasi syuting ?lm produksi PT Kharisma Starvision Plus itu berada di Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat, maka aktivitas hobinya itu bisa dipuaskan sekaligus oleh Fathir. Beberapa scene film itu, banyak dilakukan di pantai, tepatnya di Desa Cimaja. Inilah salah satu surga bagi kalangan yang gemar surfing.

Kondisi itu menguntungkan buat Fathir. Bahkan, sambil berkelakar, ia mengatakan rela tidak dibayar untuk keberadaannya di film itu lantaran bisa sekaligus melakukan surfing sesuka hati selama proses syuting berlangsung. Pas tahu lokasi syuting di sana, saya girang banget. Untung diberi tahu lokasi syuting setelah deal harga. Hahaha. Dalam hati saya membatin, enggak dibayar juga enggak apa-apa asal tempat dan makan dijamin. Makanya setiap break, saya manfaatkan untuk surfing, hehe, jelasnya.

Asyik dengan olahraga yang menantang nyali, tak membuat Fathir lupa akan tanggung jawabnya sebagai pemain film. Ada waktu break 2-3 hari, yang seharusnya bisa pulang ke Jakarta, saya malah tetap di lokasi, sambungnya. Berada di wisata alam terbuka, dengan sengatan tajam matahari laut, sempat membuatnya khawatir. Ia mesti menjaga kulit dari sengatan demi keberadaan sebagai pemeran. Ketakutan saya kalau mau syuting, karena bisa jadi karakter yang saya mainkan di sinetron atau film enggak cocok karena kulit gosong, tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

css.php
Skip to toolbar